Legenda Batu Menangis | Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia

November 29, 2017
kumpulan cerita rakyat pendek, cerita rakyat yang singkat dan menarik,Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia, Legenda Batu Menangis | Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia

Hai, Bertemu kembali dengan saya di web ini, untuk kali ini saya akan menceritakan tentang Legenda Batu Menangis, cerita ini mengisahkan seorang anak dan orangtuanya, akan tetapi si anak durhaka terhadap orang tuanya, untuk lebih jelasnya baca saja cerita di bawah ini.


Dahulu kala hiduplah seorang janda yang sudah tua, Mak Dasah namanya. Ia bertempat tinggal di sebuah gubug yang sudah reyot di pinggiran hutan. Setiap hari Mak Dasah mengaup rejeki di ladang sempit milik mendiang suaminya dahulu. Sepulang dari berladang, ia mencari kayu bakar di hutan. Setelah mendapatkan kayu bakar tersebut ia menjualnya kepada penduduk desa yang letaknya jauh dari tempat tinggalnya.

Tak sendiri Mak Dasah dikaruniai seorang putri yang sangat cantik, Jelita namanya. Akan tetapi sifat Jelita sangat pemalas. Hari demi hari Jelita hanya melakukan kegiatan berdandan dan bercermin. Ia begitu mengagumi kecantikannya sendiri. Meski ibunya yaitu Mak Dasah selalu mengigatkan Jelita untuk merubah  perilakunya tersebut, Jelita enggan menuruti perkataan dan nasehat ibunya. Ia tetap malas dan tidak mau membantu pekerjaan ibunya tersebut.

Selain mempunyai sifat malas, Jelita juga seseorang yang sangat manja. Apapun yang diinginkannya harus dituruti. Jikalau keinginannya tidak dituruti ibunya, Jelita akan marah-marah. Meski memiliki sifat yang sangat buruk, Mak Dasah tetap menyayangi putri semata wayangnya itu. Walaupun ibunya Jelita sudah tidak muda lagi dan sangat kerepotan akan pekerjaannya, Mak Dasah tetap akan menuruti keinginan Jelita. Akan tetapi, jelita terus meminta dan meminta kembali semua keinginnanya agar terpenuhi tanpa memandang keadaan ibunya tersebut.

Pada suatu ketika Mak Dasah mencoba mengajak Jelita untuk ke Pasar. Tetapi Jelita mau diajak ke Pasar asal dipenuhinya syarat, "Aku ingin Ibu berjalan berjalan di belakangku, karena aku tidak mau berjalan sebelahan dengan Ibu." Mak Dasah dengan berat hati terpaksa menuruti permintaan anak gadisnya itu.

Pagi itu Jelita berangkat ke Pasar dengan pakaian terbarunya dan paling bagus yang . Ia juga berdandan sangat cantik sekali, seperti seseorang yang hendak menghadiri sebuah pesta. Sesampainya di pasar ia lalu berjalan di depan ibunya yang mengenakan pakaian lusuh. Ibu dan anak tersebut berbeda jauh penampilannya, hingga jika tidak mengenal mereka maka tidak akan mengetahui jika sesungguhnya mereka adalah ibu dan anak.

Datanglah seorang pemuda tampan yang menghampiri Jelita, "Hai gadis cantik, bolehkah aku bertanya, apakah wanita dibelakangmu dengan pakaian klusuh itu adalah ibumu?"

Jelita sejenak melihat wajah tampoan dari pemuda tersebut. Melihat paras dari pemuda itu, hati Jelita merasa malu jika mengakui Mak Dasah sebagai ibunya. "Tidak!" katanya. "Ia bukanlah ibuku, melainkan ia adalah pembantuku."

Betapa merana dan sedinya Mak Dasah mendengar jawaban dari anaknya tersebut. Mak Dasah pun menasehati anak yang tidak tahu diri itu agar tidak diulanginya perkataannya tersebut. "Wahai Jelita anakkku, aku ini ibumu, yang melahirkanmu. Sungguh, sangat tidak tepuji dan  durhaka kelakuanmu jika dirimu menggap ibumu ini sebagai pembantumu!! Sadarlah engkau, wahai Jelita."

Namun, tidak jera yang didapatnya, melainkan Jelita menjadi - jadi, setiap orang yang bertanya kepada Jelita seiapa orang yang dibelakangnya dengan pakaian lusuh itu, Jelita senantiasa menjawab jika dia adalah pembantunya.

Hati dan perasaaan Mak Dasah sangat teriris dan sangat hancur melihat kelakuan anaknya tersebut. Ketiak ia tidak lagi dapat membentuk rasa sakit hatinya tersebut, Mak Dasahpun berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, hamba tidak kuat menahan penghinaan anak harnba ini!! benar-benar telah menjadi batu hati anak hamba ini, karena itu, Ya Tuhan, hukumlah anak hamba yang durhaka ini menjadi sebuah batu!!"

Selang beberapa saaat, doa Mak Dasah pun dikabulkan.

Tak lama kemudian kedua kaki Jelita perlahan-lahan menjadi batu. Betapa kesakitan dan ketakutan Jelita saaat kakinya tersebut berubah menjadi sebuah batu. la kian ketakutan dan menjerit mendapati pinggangnya yang bagus itu menjadi batu juga. Sadarlah ia, bahwa semua itu terjadi lantaran durhakanya dia terhadap ibunya tersebut. Maka dia pun berteriak minta pengampunan, "Mak, tolong ampuni aku! Ampuni aku! Ampuni kedurhakaan anakmu ini, Mak, tolong mak!"

Akan tetapi, semua itu sudah terlambat, Mak Dasah pun hanya bisa terdiam termenung. Mak Dasah sama sekali tidak mencoba memaafkan anaknya yang telah durhaka terhadapnya tersebut. Ia merasa telah cukup dengan penderitaaannya selama ini, dan berubahlah Jelita menjadi sebuah batu.

Batu tersebut terus menerus mengeluarkan air, seperti air mata Jelita. Orang sekitar yang mengetahui batu tersebut dan memanggil batu tersebut dengan sebutan Batu Menangis

Kesimpulannya, jangan pernahlah kamu durhaka kepada orang tuamu, karena jika kalian durhaka kepada orang tua kalian maka akan berbuah kemurkaan Tuhan. Jika kalian ingin Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia yang lainnya, silahkan jelajahi web saya, terimakasih.

Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔